Uncategorized, current affairsNovember 2, 2008 4:26 pm
           ckckck.. RUU pornografi yang lagi heboh itu lo. bukannya mau sok ikut nimbrung nyeriwis menuh2in dunia per-blog-an dengan pendapat kontra lo ya, sejak awal diributkan memang saya pernah baca2, dan sebenarnya ya setuju2 ajalah dengan RUU ini, kelihatannya cuma menyoroti ruang publik, pornografi yang mengambil tempat dan waktu di ruang publik.*manggut manggut mode on* toh tidak akan dijalankan sanksinya dengan serius, who the hell are you kidding? paling2 juga FPI.
 
            tapi setelah dibaca2 lagi, pasal 6 sodara sodara.

Pasal 6

Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan.

           hloooh, kepriwek iki? foto saya yang ciuman sama Josh Hartnett yang kesimpen di komputer termasuk kena pasal nggak? trus koleksi bokep yang di komputer si Masny juga bisa didenda?

Pasal 32

Setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

 

           Sekali lagi, dengan bodohnya tidak mempertegas dan menunjukkan perkara Ruang Publik, yang toh bakal rancu juga mengingat hukum supply-demand, produk pornografi tak akan ada tanpa permintaan konsumennya itu, inilah Undang-Undang yang akan gagal. Memang sih, secara basa basi ini undang undang yang perlu untuk menunjukkan keberpihakan pemerintah sebagai penegak batas, yang benar itu benar, yang porno itu porno. Tapi secara bodoh, saya yang cerdas inipun tahu, tak akan ada gunanya kecuali bagi pihak-pihak seperti F*tiit* tadi, yang doyan sweeping dan kegiatan sejenisnya.maaf, tapi selain jadi bukti basa-basi tadi, kelihatan kok yang bikin RUU agak bego(saya ga minta maaf dalem kurung, emang geblek).

           saya sih bukan mau ikut-ikutan kisruh pro dan kontra, cuma logis saja, tidak akan jalan, santai sajalah, Masny juga, aman kok bokepnya, mau didenda 2 milyar yo ra enek duite, do ngopo…? paling-paling juga dipenjara 3 bulan, pol deh itu seriusnya pemerintah. menuh-menuhin penjara sama mahasiswa se-Indonesia? hehe. bagi para produsen bokep toh ga ngaruh, yang bikin bukan orang sini juga,. kalaupun orang sini, paling juga ya amatir, rekaman hape, ya ujung-ujungnya salah sendiri, lagi gituan kok mau pamer, ckckck. ndeso.

 
Uncategorized, current affairsAugust 3, 2008 6:15 pm

 

yuwhuw, menyenangkan sekali menonton episode terahir Avatar Aang…

aku naksir zukko, huhu gantengnyaaaaaaaaah,

current affairsJuly 2, 2008 9:00 pm

 

 ada apa sih dengan tuduhan sodomi kepada Anwar Ibrahim ini?

kalau memang iya benar, apa iya seseorng yang cerdas seperti beliau akan melakukan kesalahan yang persis sama dengan yang telah menyengsarakan diri dan keluarganya selama bertahun-tahun dan menjatuhkan nama baiknya?

 

kalau memang rekayasa pemerintah UMNO, oh ya ampun.. ga ada isu yang lebih baik? apa kek gitu yang rada sophisticated kayak tuduhan nyolong mangga kek ato yang rada cerdas kayak isu telefon santet and/or  provider gereja setan yang sempat beredar di indonesia (great marketing anyway..hehe)…

current affairsMay 22, 2008 8:43 pm

        Kemarin itu saya lewat kawasan malioboro. Macet bouw. Penuh turis. Saya benci gasuka turis. Suka nginjek belakang sendal saya, suka bikin harga batik rusak, selera batiknya buruk(berasa yang expert, padahal tauny cuma motif prabuanom ihih), suka pake ketekan padahal jogja panas(bener sih padahal) dan beberapa suka pake syal tebel siang bolong.. halo? swiss, madam?eh ntar dimarahin sultan kalo omel-omelin turis, padahal sayah juga bukan orang jogja-jogja amat, hehe.. 

        Eniweiii… lebih dari turis, saya kadang-kadang gasuka orang demo. Kadang bisa benci sampe jempol kaki. Menuh-menuhin jalan, bikin macet, lebih suka cari perhatian dari sekedar make syal di siang bolong, dan sok sama pengguna jalan lain. saya beneran gasuka, mas, mbak. Bukan tujuannya, tapi lebih kepada pelakunya.

        Ok.. balik ke malioboro siang hari panas hari selasa kemarin. Sedang panas-panasnya udara dan level ramainya manusia sudah menguji esmosi, samar-samar saya mendengar suara-suara yang saya kenal betul. Rombongan demo. Betul saja, tuntutannya masalah BBM, tapi yang pasti jumlah pesertanya kurang dari 30 orang. Wah, gatal saya berkomentar. Bukannya tidak setuju dengan bentuk demokrasi ini loh ya, cuma dengan alasan kepraktisan dan berhasil-tidaknya menyampaikan tujuan, kalau cuma segitu, kasian, mas, mbak. mending kalian nulis di media massa saja, bikin artikel, lebih ngaruh. udah capek, haus tereak-tereak, eehh paling-paling juga cuma ditontonin  turis-turis. attitudenya itu loh. masa joget-joget? itu bukan secara umum loh ya, cuma yang saya lihat kemarin, tapi bener iya. Joget-joget padahal tuntutan yang mereka bawa jelas-jelas serius, demi kepentingan rakyat. Kalau mau serius, ya sekalian. Dengan jumlah peserta yang bisa benar-benar mengintimidasi..

        Tidak serius karena, sudah bikin jalan macet, menyiksa diri sendiri, nggak maksimal, attitudenya nggak banget.. seperti konvoi artis. Kurang lebih bisa saya katakan tidak menghormati pengguna jalan lain. belum selesai yang itu, ada pula rombongan demo yang lain, entah memang janjian atau tidak, yang satu ini lenih rame kelihatannya. bawa bendera salah satu partai. Sudah begitu manteng di perempatan jalan, di perempatan Kantor Pos Pusat itu. Bodo amat mereka punya izin atau tidak, tapi yang jelas, sangat-sangat mengganggu pengguna jalan yang lain dan tetap, angkuh.

        Saya jujur saja memang mengaku terganggu. Ini juga kan bentuk mengutarakan pendapat. Kalau memang tidak efektif–memang tidak, jujur sajalah–itu namanya mubazir, buang-buang waktu tenaga dan materi, yang berarti bisa diasumsikan anda itu maaf, kurang pintar. Lagian nih(ini sedikit subjektif) belum tentu juga itu tidak dibayar.. hehe.. sudah sering dengar kan yang namanya demo itu bisa dibisniskan?

 

         sekian dulu ngomel-ngomel soal demonya. Jadi ingat petuah nenek saya ketika awal jadi mahasiswa. Bukannya takut cucu tersayang ditangkap polisi atau dipentungin atau digebukin, pesan nenek saya adalah;

       "nggak usah ikut-ikut demo ya. nanti item"

Masuk akal sekali. hwehehehehe..

 

 

current affairsMay 7, 2008 4:29 pm

Seumur hidup masa dewasa yang bisa diingat so far, sekali inilah saya masuk UGD.

    jadi alkisah, seminggu yang lalu ada event di gunungkidul nunjauh disana. entah darimana mulainya, penyakit lama saya kambuh. biasanya karena cuaca dingin, pemicuny udara dingin, saya memang badan kempy, tidak tahan dingin. tapi anehnya, di gunungkidul wonosari kan nggak dingin ya? kalau tahu jogja pasti tepatnya, samasekali tidak dingin. panas teng teng malah. atau mungkin juga pemicunya ksrena tidur di karpet. yang tebel dan lumayan nyamanlah, tapi tetap saja karpet toh? debunya bisa buat menanam kacang tanah. atau juga air di kantor bupati, yang fyi, kami pakai untuk mandi. atau mungkin juga suara ngorok Ryan yang hororny mengalahkan perempatan jalan jam empat sore, persis tigapuluh senti dari kuping saya. singkat cerita, lebih parahlah dari acara kemah-kemahan di gunung. kumatny penyakit lama tersebut tidak jadi masalah karena saya membawa obat, dan untuk sementara, terlupakan.

 

    Sampai empat hari kemudian terulanglah pola yang sama, kali ini di Wates (yea yea i know, ga ada kota yang lebih jauh and/or keyenan dikit?haha) dengan event yang sama, cuaca kota yang tidak berbeda jauh, sistem akomodasi dan sanitasi yang beda-beda tipis dengan yang di wonosari(kali ini tidurnya di rumah dinas yang sudah lama kosong, haha again*ketawa asem mode on*),. Malam pertama, tidak ada masalah, saya tidur nyenyak. hari kedua.. mulai ada tanda tanda.. malamnya, sedikit parah, dan kok ya sialnya, persediaan obat saya raib. entah saya lupa sudah meminum semua, atau ada yang iseng betul nyolong dari tas saya. tambah gerimis.. tambah parah.. sementara rundown acara masi menyisakan lima pengisi acara yang kira-kira makan waktu dua jam untuk selesai, saya tidak tahan, dan memutuskan kembali ke basecamp. sebelumnya sempat tanya tanya dengan Mr.Joko(pejabat pemda setempat,-red.),

ema         :"pak apotik mana yah yang buka jam segini?" sambil liat jam, setengah sebelas malam, jeng.

pak joko    :"wah.." mikir mikir. "ga ada kayakny mbak ema, apa kerumah sakit saja, kan ada apotiknya itu. perlu saya antar?"

ema          : duduk nggeser semeter menjauh*geer mode on*.. "gapapa pak, nanti saja kalau perlu, dengan teman-teman"

 

    jadilah saya jalan kaki menuju basecamp. celingak celinguk,  diantara beberapa makhluk yang tepar dan tidak, saya menyeret si Ryan untuk mengantar ke rumah sakit. maka berangkatlah saya dengan si Ryan yang baik hati walaupun sedikit misuh misuh karna terganggu acara making number two-nya. sampai di rumah sakit saya jalan lurus ke apotik, yang kok ya sepi, dan setelah ketak ketok kaca pembatas sekitar lima menitan, keluarlah mbak-mbaknya.

ema        : mbak ada in*****? (sensor dulu merekny, tar blakangan biar rada misteri kan penyakit sayah)

mbaknya  : sebentar.

si mbaknya masuk lagi, ga keluar keluar lima menitan lagi.

ema        :( noleh ke ryan) duduk dulu deh.

Ryan       : he eh(or something like that, gajelas deh lupa beliau ngomong apaan)

    dan… peristiwa bonus yang tidak saya duga, harapkan, atau suka, Bet. MATI LAMPU. DI RUMAH SAKIT.  rumah sakit sodara sodara. you know, dengan segala film menyesatkan yet masih mampu menakut nakuti saya dengan sukses itu, saya langsung mepet ke Ryan, langsung megang kaosnya dengan kekuatan yang pasti bisa bikin robek kalo ditarik sedikit saja. dan merem dong. males banget mau buka mata, ga ada cerita. sambil terus nyubit nyubit ryan biar terus ngomong ga diem dan bikin tambah histeris. sekitar tiga menit yang rasanya tiga jam kemudian, lampunya nyala, dan membuka aib saya di depan ryan, takut gelap. padahal kan selama ini saya sudah susah payah membangun image galak, garang, ganas, dsb dsb, yang pokoknya tidak mungkin berantakan dengan peristiwa mati lampu di rumah sakit sekalipun.

 

    anyway kembali ke plot cerita awal, si mbak apoteker tadi akhirnya kembali dan menjelaskan dengan muka datar bahwa obat yang saya maksudkan ada, cuma tidak bisa tanpa resep dokter, yang mengharuskan saya masuk dulu ke UGD.  oh, jawab saya manggut manggut. berfikir keras, dan didalam hati semua isi kebun binatang dari babi anjing monyet kambing jerapah macan saya teriakkan. dalam hati, lo. gimana caranya this bi*** ngasi obat breng*** ituh tanpa saya harus mampir ke UGD.

saya akhirnya suma berdiri bergeming

Ryan        :"ayo..UGDnya disana"

ema         :" eewwh.. uuh. anu."

ryan        :"knapa lagi?"

ema        :"gausa ajalah, udah mendingan kayaknya"

ryan        :"kok bisa?" (hidung mengembang tanda curiga)

ema        :mikir sebentar sampai dimana kadar toleransi dan pengertian ryan sebagai sahabat,)"iyantarkalomasuksanabisadisuruhdisuntik.

                gw.gamau.disuntik."

saya tahu ryan sudah sangat geli dan memang tidak bisa menahan diri untuk tertawa, tapi yasudahlah, hiburan saja buat dia, upah sudah capek-capek mau mengantar saya kerumahsakit. akhirnya kami pulang ke basecamp, dengan saya yang sebenarnya masih menahan mampus dengan gejala penyakit saya ini, tapi akhirnya bisa tidur juga, berlalu satu hari tanpa masuk UGD, dan disuntik, not bad eeven for me.

 

    tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, (benar tidak perbahasanya?) besok malam penyakit kampung saya itu kambuh, padahal sudah dengan setengah mati saya hindari segala sesuatu yang dapat menjadi pemicunya. pakai sweater dan baju dua lapis, jadi tidak mungkin kedinginan. tidur di karpet dialasi selimut, meminimalisir efek debu. tidak mandi, jadi tidak kena air. dan tentu saja melempar Ryan dengan benda apa saja di dekat saya kalau suara ngoroknya sudah mulai terdengar.

    jadilah mau tidak mau saya mengakui juga ke teman-teman bahwa saya perlu ke UGD. sudah tidak tahan, sampai saya bisa pasrah menerima kemungkinan bahwa nanti disana bisa disuntik. akhirnya dengan dua orang yang prihatin, Aliet dan Mbak Lia, berangkatlah saya ke rumah sakit dengan diantar Om Adi, yang belum cukup saya sudah pasrah akan disuntik, mengaku dengan polosnya ya tapi maap maap kalo nyetirny belok belok ga lurus ya, mabok ga mabok kan yang penting nyampe rumah sakit. iya ga ma? sambil senyum senyum najong. oh Ya Allah. dimana mana ya emang. kalo cowok cowok sudah ngumpul, apalagi yang ini adalah kumpulan cowok yang pembuka obrolan setelah magrib adalah entar mau kenalan nggak sama temenku, Colombus? buat yang tau siapa atau apa itu Colombus, ya tau kan berarti maksud saya. jadi kalo saya tidak mati shock atas reaksi terhadap gejala penyakit, saya akan mati tertabrak kereta api karena berada dalam mobil yang disetiri supir mabuk. pasrahlah hambamu ini ya Allah.

    setelah perjalanan yang lumayan lurus, sampailah kami di rumah sakit, masuk UGD dengan dua orang cekikikan di belakang saya, nanti sodara sodara sekalian akan tahu mengapa, kalau sudah tahu, apa sih sebenarnya penyakit misterius saya ini. akhirnya dengan wajah serius datanglah dokter yang memerintahkan seorang perawat untuk mengukur tensi saya. lalu sambil memegang megang tangan saya, bertanya.


dokter    : "ini kenapa?"

ema       : "anu dok.. biduran."

 sayup sayup cekikikan terdengar di belakang saya. biduran aja kok masuk ugd, ihihihih. saya cuma pasrah sajalah diketawakan, karena didalam hati juga sebenarnya geli. penyakit kampung begini kok bisa bikin repot setengah mati. kalau tidak sangat terpaksa saya sebenarnya tidak akan melibatkan orang lain.. tapi bagaimana mau disembunyikan. gejala gejala berikut ini tak mungkin tidak disadari orang sekeliling saya:

1. garuk garuk garuk garuk garuk

2. bentol bentol seluas pulau madura di tangan, kaki, leher

3.  bengkak bengkak di tangan, kaki, dan paling parah, bibir. bayangkan, silahkan. setiap saat sepanjang hari saya dengan bibir bengkak dan mata sembab harus bertemu orang orang, dari dibilang baru bangun tidur terus(padahal udah syap sedia dari jam 7 pagi, kan ga profesional tuh.) sampai bapak-bapak orang pemda bilang "loh kenapa mbak? kok nangis nangis? diputusin pacarnya ya?

        setelah sang dokter bertanya banyak tetek bengek seperti alergi apa, dingin atau makanan? debu? sudah berapa lama?setiap serangan berlangsung berapa jam? serangan… peraaang kali.

      ya begitulah akhirnya. saya pulang dengan resep untuk biduran, dan tetap, cekikikan dari dua orang yang sudah minta maaf atas kelancangan mereka, tapi tetap saja tidak berhenti ketawa. kok ya seumur umur masuk UGD, penyakit ga hip begini, gerutu saya, setengah geli, setengah bersyukur bahwa syukur memang, cuma penyakit kampung ini, bukan penyakit berat yang aneh2.. alhamdulillah ya Allah, cuma gatelgatelgatel ini….*senyum kecut asem mode on*

 


 

 

     

 

 

 

current affairsApril 17, 2008 5:20 pm

knapa jogja suka ujan siang siang tiba tiba padahal lagi panas bin cerah bin ga ada mendung at all sebelumnya??

 

jawab: karena ada pawang ujan gakuat mbawa ujan keluar jadinya bocor pas di gejayan.

 

 

 

btw itu judul postinganny keren ga ? itu emang keren,puitis dan *menye menye mode on* ga cocok buat ini, tarlah ya lain kali ema buat yang isi rada-rada menye menye biar sesuaih ama judul ituh 

current affairsApril 16, 2008 10:31 pm

un-current juga.. hehe, tulisan taun lalu)

 

pagi hari tanggal tujuh… bangun jam 5, setelah solat dan inget pagi ini ga ada kegiatan, ak pindah ke kamar sebelah cumcum setelah tadi tidur di kamar mella (kamar ikke terisi pantat dita semua, koran koran bertebaran, dan asbak,–tenkyu mpel..).

damn beautiful morning. sampai jam tujuh lewat banyak, tiba2 si tompel menendang pintu kamar cumcum–literally!– dan tereak tereak..

        "bangun blay!! garuda jatoh!  cepet mas mbodo udah otw, kita kesana!"
ema: "garuda siapa? deket? mana? (maklum kosakata jam 8 pagi).."
            "garuda pesawat, bego, kepeleset. cepet, gapake mandi!"

akhirny itulah yang terjadi pagi itu. rencana hari ini yang seharusny adalah having fun, membuat foto2 pre wedding, karena adalah by the way, hari terakhir liputan si tompel d jogja, free as a bird.. but what can we say,..? setengah sedih seperduapuluh bete (karena di mata udah terbayang2 mau foto2 di Tamansari, muter2 jogja..) sampailah kami di depan lambang burung di atas gapura akademi AAU. mobil kami dateng dari arah barat, mau muter, gaboleh, polisi udah galak2. tapi disuruh turun juga, "wartawan mas? turus disini aj, mobil tidak boleh masuk, mohon cepat mas,"

berlari larilah kami menuju lokasi jatuhny garuda.. yang pada pukul 8 lebih itu sudah tidak ada api, asap2 aja. udah lupa ja, berapa, tapi yang rame sih, manusia yang nonton. heran juga sih. kok pada bisa masuk, kok kawasan itu ga ditutup, yang  notabene sehari hari adalah kawasan militer. palagi kejadian gini, malah rame.

and so it is.  sawah2 penuh orang2 yang nonton, di jalan tengah yang memisahkan landasan ama sawah tempat jatuhny itu, udah mulai dateng ambulans2 lagi yang tadiny mewngangkut korban selamat ke rs2. sekarang menunggu jenazah…

panasnya. bukan dari api pesawat loh. dari matahari. aspal, gila aja.. tambah lagi asep dari knalpot mobil2, tur manusia yang kayakny udah pindahan semua dari sekaten… but um stuck. nyari kamera yang lari2 entah kamana,  karena si tomple krang kring nanya si kameramen dmana.. sepatu udah ga berbentuk, entah lumpur entah tanah, sempet pula kemasukan cacing..  pas udah duduk dan kayakny ga ada lagi yang penting, eh.. datenglah si bapak Rajasa… heboh lagi.. tapi komentarnya, jeng… "turut berduka cita sedalam2nya" or sumthin like that.. yang pasti cuma sekalimat itu. kasian juga sih. kok ya sampe ga bisa ngomong gitu..

tapi hebad, evakuasi jenazah sisanya itu itungannya lumayan cepet, rapih pula, langsung masup ambulans, gapake heboh, polisi2 ama militer disitu semwa kerjany rapih. area clearing pun gapake ribut2.. kalo ampe ada yang pada protes sih kelewatan, suruh aja kerjain sendiri.

ampe sore, ampe jet2 pribadi orang ostrali mondar mandir, ampe logo garuda dicat putih, ampe downer dandell dateng, ampe semua stasiun live report, ampe gelap.

back to orang-orang-yang-nunton,
pengen banget ngejambak ibu2 yang bawa bayinya panas2 gituh, ada lagi nenek2 bungkuk maksa lompat got–untungnya sukses– tambah lagi ada suara jualan eskrim, dan percaya tidak percaya, ada yang jualan tas !!!!! entah mas2nya nonton doang kali, cuma ya kalo ada yang mbeliin ya sukur…

ahirnya udahan, dan pas jalan pulang ke rumah, satu lagi hal hebad yang mungkin tidak disadari banyak orang. kalo anda adalah salah satu orang yang berdomisili di jalan Kaliurang, especially per4an kentungan keatas, pasti tau kalo di per4an tuh ada iklan garuda segede gaban yang tulisannya " AKHIRNYA KENYAMANAN, KESELAMATAN DAN …(LUPA) MENJADI PILIHAN ANDA" pokokny gitu, saya lupa lengkapnya. yah pokokny yang nyindir2 airlines lainlah…

HILANG TANPA BEKAS. YANG ADA CUMA PAPAN BILLBOARD KOSONG.
keren ga sih garuda? secepet itu PRnya kerja.. hebad deh.

yasudlah. mudah2an ga banyak lagi kecelakaan.. semua semua korban luka maupun trauma diberi kekuatan, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan DAN ganti rugi yang sesuai. bukanny apa2. kasian kalo yang meninggal kepala keluarga..

Uncategorized, current affairs 10:26 pm

     beberapa hari yang lalu saya membaca baca lagi buku ketujuh dari seri Narnia, The Last Battle.. dulunya agak seriyus, tapi sekarang saya sedikit geli di bab2 trakhirny yang menjelaskan sejenis ‘kiamat’ dunia Narnia… bagaimana bla bla ketika Narnia lama hancur a.k.a kiamat, sebuah pintu membuka pada dunia dunia baru yang lebih baik, lebih agung..

        kemudian si Lucy (tokoh di cerita rekaan CS. Lewis ini) bilang ia merindukan Narnia, Peter(idem) melihat bahwa ini adalah tempat yang sama, tapi tentu saja lebih baik dan cerita selanjutny adalah menurut saya, cara Mr.Lewis mengandaikan surga, dimana di dunia baru adalah Narnia, tentu saja, tapi segalanya lebih ‘dalam’, lebih berwarna, lebih agung.. segalanya, dari gunung, binatang, sampai orang-orang yang kita cintai, terlihat jauh lebih baik.

        jadilah saya mulai membayangkan  bayangan surga ini, berarti semua yang ada di dunia ini masih ada, dan lebih baik pula.. pemandangan agung.. rumah.. sawah yang saya kenal, kluarga, sahabat, orang yang saya cintai. pemandangan di sekitar saya.. jadi pemandangan sekarang, kamar ini akan menjadi indah.. teras belakang akan lebih bermakna, sumur yang lebih ‘dalam’..

       Yah begitulah.. sekarang sudah saatny mencuci, dan duduk jongkok di depan  ember kesayangan saya. calon si Ember Agung, sampai ketemu di surga(optimis dong).

current affairs 1:30 pm

Un-current affairslah…– kejadian masa lampau, file baru ktemu… 

Suatu sore saya menerima telefon dari seorang teman di Jakarta, mengabarkan ia sekarang pindah rumah ke daerah bebas banjir(insyaAllah..), karena saat banjir di Jakarta pada awal tahun lalu, dia termasuk salah satu korban yang rumahnya agak kelelep, padahal menurut brokernya dulu, terletak di kawasan yang lumayan elit. Dan obrolan terus berlanjut dengan Mela (teman sekontrakan, 23, pengusaha clothing distro kecil-kecilan) masih di seputar kejadian banjir itu. Salah satu yang paling saya ingat adalah pernyataan presiden SBY yang menegaskan bahwa pintu air Manggarai nggak pernah dilarang buat dibuka (yang kalau iya istana kepresidenan bisa kebanjiran juga), saya dan Mela berandai andai bahwa kalo iya istana banjir, presiden bakal pindah ngantor ke Jogja, disini kan ada istana kepresidenan. kalo Bali, jangan,. sini aja.

 

 Berhubung analogi saya tadi logis, jadi ingat, beberapa saat yang lalu saya juga pernah membaca adanya sebuah usulan memindahkan ibukota pemerintahan Australia dari Canberra ke Sydney. Alasannya rada-rada modis menurut saya, hehe, yaitu beberapa pihak berpendapat Sydney lebih ramai, lebih keren—hip, maybe—untuk jadi ibukota, daripada Canberra yang dianggap kurang keren sebagai ibukota.

 

 Lah, bukankah malah sebaliknya? Buat Jakarta nih, selama ini bukankan semua orang berpendapat Jakarta terlalu berat bebannya sebagai ibukota? Jakarta menanggung tiga beban sekaligus, ibukota pemerintahan, ibukota bisnis dan ’ibukota’ hiburan? Sebenarnya agak tidak adil, semua hal jadi numpuk di Jakarta. Dan akibatnya, ya semua masalah jakarta itulah. Belum lagi isu-isu sentralitas-nya jakarta yang membuat iri daerah-daerah lain(iya nggak sih? saya Cuma ngiri di jogja ga ada dufan, hweheh). Saya sering berandai andai bahwa pemerintah kita berani untuk mengambil langkah besar memisahkan semua itu.

 

 Seperti di US, dengan ibukota pemerintahan di Washington, kegiatan bisnis terpusat di New York, dan semua orang juga tau, Califonia adalah ibukota ’hedon’… dan untuk disini, saya berkhayal bahwa Jakarta tetap sajalah buat seliweran artis artis dan dunia mode dan kawan-kawannya, pemerintahan dipindahkan saja ke Jogjakarta, sedangkan bisnis bisa tumplek blek di Surabaya. Biar adil(walaupun masi di seputaran pulau Jawa) dan Jakarta nggak penuh-penuh amat…

 

 Sekali lagi Mela menyela, ”iih kan kasian presiden, Mak, tiap hari didemo”. Iya juga sih, pikir saya. Mahasiswa yang doyan demo disini pasti seperti dapat durian runtuh, Istana presiden pindah ke Jogja, pasti tiap hari mereka ’jalan-jalan’ kesana. Kasihan, repot juga paspampresnya. Tapi yah, sekali itu cuma usulan, yang seringkali juga saya dengar, tapi sepertinya sampai tahun monyet juga nggak bakal terwujud(ato bisa?hehe), sama seperti khayalan saya tentang Malioboro yang dijadikan seperti Orchard Road, yang cuma boleh dimasuki pejalan kaki(dan becak!!:) dan bebas dari kendaraan bermotor. Dan harusnya tulisan ini saya kirim ke majalah atau surat kabar politik, biar ada pejabat yang baca, hehehe… tapi kan lumayan, biar kita-kita saja yang memikirkan itu(walo udah basi, teteup perlu), pejabat yang sekarang biar saja pusing dengan urusan yang lebih riil saat ini. Urusan berandai-andai seperti tadi, jadi jatah yang muda-muda…

 

 Masih berapi-api saya ngomong tentang pindah-pindahan ibukota, tiba-tiba Mela menjerit lagi,”nggak bisa mak! Kalo presiden ngantor di Istana yang di pojokan Malioboro, ntar Malioboro suka ditutup, Mela mu belanja bahan tas kan susah!!” waduh… memang, setiap kepentingan berbenturan, mungkin karena itulah sampai sekarang usulan tak-tersampaikan saya itu tak juga pernah dibahas di DPR, meski mungkin juga sudah banyak dicetuskan orang-orang yang lebih kompeten.

 

 Kacau lagi deh, khayalan saya diberi proyek oleh Andi Malarangeng untuk merancang kepindahan Presiden ke Jogja…