Sedikit lancang mungkin bahasan saya dibawah ini. tulisan pribadi secara religius, jadi maaf kalu tidak nyambung dengan sebagian pembaca:)

        Beberapa waktu lalu saya dan beberapa orang kawan sedang berada di dalam mobil, perjalanan pulang ke Jogja. Entah darimana mulai, saya lupa, tiba tiba topik pembicaraan berangkat ke seputar shalat. Iya shalat wajib yang itu, subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Ada yang ngotot sekali menasihati yang lain bahwa shalat itu wajib, dan sepertinya mengarah pada pidato, daripada sekedar obrolan pengisi waktu. Sudah tahu, pikir saya, tidak pakai teriak-teriak pun yang namanya sekedar islam KTP pun tahu kalau shalat itu wajib. Tapi tetaplah, saya sedikit berhati hati ketika mengutarakan pendapat, alias nggak ikutan debat kusir, hehe.. Bukan apa-apa, bagi saya masalah shalat adaah pribadi, lebih mengarah kepada Hablumminallah, urusan masing masing manusia dengan Rabb-nya. Sedangkan urusan sesama manusia, yang dalam kasus ini, adalah batasan kawan, yang sudah dewasa, sudah bisa berfikir untuk dirinya sendiri, adalah mengingatkan. saling mengingatkan.

        Saya coba mengingat-ingat semua jurus dan rumus bagaimana menjelaskan hakikat shalat itu sebagai ibadah. Saya bukan ahli agama. Jadi ya sekarang ini ngomongin secara bodoh-bodohannya ya. Secara logika, ketika dikatakan bahwa jarak terdekat dari seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka shalat akan berfungsi sebagai weker. Mengingat dan bercermin segala perbuatan kita di hadapan Allah. Dan insyaAllah kalau sholatnya sudah benar, lurus, atau setidaknya aware-lah, bahwa ini bukan sembarang kegiatan, tapi kegiatan menghadap Yang Diatas, maka logikanya, minimal malu dong, kalo ada keliru, silap dan perbuatan nakal apapun yang kita lakukan?

        Itu satu dulu cara saya melogika bahwa shalat itu mencegah perbuatan munkar:)

      Dengan logika anak-anak, menjelaskan menegakkan shalat itu luar biasa penting sebenarnya. Teringat perumpamaan ibu saya yang menurut saya sangat masuk akal meski sedikit lucu, dalam usahany memberi pengertian tentang kewajiban shalat pada putrinya yang masih keras kepala(seingat saya, waktu itu saya masih duduk di bangku SD kelas 6, kira-kira)  dan sampai sekarang masih saya ingat betul dan nanti pada saatnya, akan saya teruskan kepada anak-anak saya juga.

Beliau mengatakan "sholat itu seperti gantungan baju loh. semua amal ibadah lain ya baju-baju yang ema mau cantelin. nah kalo  gantungan bajunya aja ga ada, gimana baju-bajunya mau nyangkut? ya jatuh semua, ga diitung."

hahaha… sedikit konyol memang, tapi dengan perumpamaan sederhana itu saya dapat mengerti.. sederhana saja. pertama sholat karena Takut. Kemudian karena Wajib. Lantas karena Perlu.. Entah darimana ibu saya dapat ide Gantungan-Baju itu, hehe.. yea at least it works on some point:)

 

       Kembali ke dalam Mobil yang dalam perjalanan menuju Jogja… Teman yang tadi ngotot, mulai menaikkan intonasi ketika salah teman saya yang menyetir, kita sebut saja si A, mengeluarkan pendapatnya yang pasti membuat koleps guru ngaji saya. " gw mah mengartikan gini ya, yang namanya sholat itu salah satu bentuk ibadah, esensinya kan ibadah, jadi selama gw masih beribadah yang lain dan yang menurut gw lebih berguna bagi orang lain, gw rasa itu sama saja ama sholat. ‘
       Sudah dapat ditebak, si Ngotot langsung menyela "wah ya nggak bisa begitu!! itu kan wajib, ibadah paling mendasar, dosanya itu loh.." dan bla bla bla. sementara saya masih diam saja, belum mau masuk ke arena pertikaian, berhubung jarak ke tujuan masih jauh, saya memang berfikir terlalu panjang, tidak mau jika nanti ada fraksi diantara para penumpang dan saya bisa bisa diturunin di pinggir jalan. Hutan lo. Bukannya tidak mau ambil pusing dalam keberpihakan atau mengatakan yang benar itu benar, toh si A saya yakin tau, pentingnya sholat dan kedudukannya apa di mata Allah. Toh memang debat ini berakhir tidak dengan suatu kesimpulan. Hasilnya, si Ngotot cemberut dan sepertinya bertemu ‘musuh’ baru, dan si A tetap saja lempeng menyetir tanpa merasa tadi dikuliahi dan mendapat penerangan, hehe.. Dan saya percaya, orang yang beribadah dan mengetahui apa itu ibadahnya, dinilai lebih oleh Allah daripada orang yang hanya sekedar shalat tapi tidak tahu maknanya. Tapi bukan berarti meremehkan, kan? teman saya si A ini cerdas kok, dan sudah tahu itu. cuma tidak bisa melewatkan kesempatan debat kusir saja,.. hehe. hobi sepertinya. 

buktinya tadi siang ia sedang dirumah, dan saat masuk waktu duhur, ia bertanya dimana saya letakkan sajadah:) tidak mau saya tanyakan alasannya. Cukup ditunjukkan dimana saya menyimpan sajadah dan menjelaskan kalau keran di samping sumur yang sebaiknya ia pakai untuk berwudhu.

        Saya juga sadar,  saya bukan orang yang bagus agamanya. Masih jauh, Sholat saja kadang masih bolong. Malu sih, padahal umur sudah segini, dan bisa saja mati besok pagi. Yaa kadang dibantu dengan sholat sunnah. Tapi tetap dengan semampu selurus pikiran saya, berusaha menyempurnakannya. Tapi saya bukan ingin berdebat tentang urusan yang satu ini. Sudahlah sampai disana urusan saya dengan sesama manusia (kecuali mungkin keluarga, atau anak, suami ya..), mengingatkan. Sudah jelas hukumnya, jelas duduk perkaranya di hati dan kepala, jadi maaf, bukan untuk diperdebatkan:)