Seumur hidup masa dewasa yang bisa diingat so far, sekali inilah saya masuk UGD.

    jadi alkisah, seminggu yang lalu ada event di gunungkidul nunjauh disana. entah darimana mulainya, penyakit lama saya kambuh. biasanya karena cuaca dingin, pemicuny udara dingin, saya memang badan kempy, tidak tahan dingin. tapi anehnya, di gunungkidul wonosari kan nggak dingin ya? kalau tahu jogja pasti tepatnya, samasekali tidak dingin. panas teng teng malah. atau mungkin juga pemicunya ksrena tidur di karpet. yang tebel dan lumayan nyamanlah, tapi tetap saja karpet toh? debunya bisa buat menanam kacang tanah. atau juga air di kantor bupati, yang fyi, kami pakai untuk mandi. atau mungkin juga suara ngorok Ryan yang hororny mengalahkan perempatan jalan jam empat sore, persis tigapuluh senti dari kuping saya. singkat cerita, lebih parahlah dari acara kemah-kemahan di gunung. kumatny penyakit lama tersebut tidak jadi masalah karena saya membawa obat, dan untuk sementara, terlupakan.

 

    Sampai empat hari kemudian terulanglah pola yang sama, kali ini di Wates (yea yea i know, ga ada kota yang lebih jauh and/or keyenan dikit?haha) dengan event yang sama, cuaca kota yang tidak berbeda jauh, sistem akomodasi dan sanitasi yang beda-beda tipis dengan yang di wonosari(kali ini tidurnya di rumah dinas yang sudah lama kosong, haha again*ketawa asem mode on*),. Malam pertama, tidak ada masalah, saya tidur nyenyak. hari kedua.. mulai ada tanda tanda.. malamnya, sedikit parah, dan kok ya sialnya, persediaan obat saya raib. entah saya lupa sudah meminum semua, atau ada yang iseng betul nyolong dari tas saya. tambah gerimis.. tambah parah.. sementara rundown acara masi menyisakan lima pengisi acara yang kira-kira makan waktu dua jam untuk selesai, saya tidak tahan, dan memutuskan kembali ke basecamp. sebelumnya sempat tanya tanya dengan Mr.Joko(pejabat pemda setempat,-red.),

ema         :"pak apotik mana yah yang buka jam segini?" sambil liat jam, setengah sebelas malam, jeng.

pak joko    :"wah.." mikir mikir. "ga ada kayakny mbak ema, apa kerumah sakit saja, kan ada apotiknya itu. perlu saya antar?"

ema          : duduk nggeser semeter menjauh*geer mode on*.. "gapapa pak, nanti saja kalau perlu, dengan teman-teman"

 

    jadilah saya jalan kaki menuju basecamp. celingak celinguk,  diantara beberapa makhluk yang tepar dan tidak, saya menyeret si Ryan untuk mengantar ke rumah sakit. maka berangkatlah saya dengan si Ryan yang baik hati walaupun sedikit misuh misuh karna terganggu acara making number two-nya. sampai di rumah sakit saya jalan lurus ke apotik, yang kok ya sepi, dan setelah ketak ketok kaca pembatas sekitar lima menitan, keluarlah mbak-mbaknya.

ema        : mbak ada in*****? (sensor dulu merekny, tar blakangan biar rada misteri kan penyakit sayah)

mbaknya  : sebentar.

si mbaknya masuk lagi, ga keluar keluar lima menitan lagi.

ema        :( noleh ke ryan) duduk dulu deh.

Ryan       : he eh(or something like that, gajelas deh lupa beliau ngomong apaan)

    dan… peristiwa bonus yang tidak saya duga, harapkan, atau suka, Bet. MATI LAMPU. DI RUMAH SAKIT.  rumah sakit sodara sodara. you know, dengan segala film menyesatkan yet masih mampu menakut nakuti saya dengan sukses itu, saya langsung mepet ke Ryan, langsung megang kaosnya dengan kekuatan yang pasti bisa bikin robek kalo ditarik sedikit saja. dan merem dong. males banget mau buka mata, ga ada cerita. sambil terus nyubit nyubit ryan biar terus ngomong ga diem dan bikin tambah histeris. sekitar tiga menit yang rasanya tiga jam kemudian, lampunya nyala, dan membuka aib saya di depan ryan, takut gelap. padahal kan selama ini saya sudah susah payah membangun image galak, garang, ganas, dsb dsb, yang pokoknya tidak mungkin berantakan dengan peristiwa mati lampu di rumah sakit sekalipun.

 

    anyway kembali ke plot cerita awal, si mbak apoteker tadi akhirnya kembali dan menjelaskan dengan muka datar bahwa obat yang saya maksudkan ada, cuma tidak bisa tanpa resep dokter, yang mengharuskan saya masuk dulu ke UGD.  oh, jawab saya manggut manggut. berfikir keras, dan didalam hati semua isi kebun binatang dari babi anjing monyet kambing jerapah macan saya teriakkan. dalam hati, lo. gimana caranya this bi*** ngasi obat breng*** ituh tanpa saya harus mampir ke UGD.

saya akhirnya suma berdiri bergeming

Ryan        :"ayo..UGDnya disana"

ema         :" eewwh.. uuh. anu."

ryan        :"knapa lagi?"

ema        :"gausa ajalah, udah mendingan kayaknya"

ryan        :"kok bisa?" (hidung mengembang tanda curiga)

ema        :mikir sebentar sampai dimana kadar toleransi dan pengertian ryan sebagai sahabat,)"iyantarkalomasuksanabisadisuruhdisuntik.

                gw.gamau.disuntik."

saya tahu ryan sudah sangat geli dan memang tidak bisa menahan diri untuk tertawa, tapi yasudahlah, hiburan saja buat dia, upah sudah capek-capek mau mengantar saya kerumahsakit. akhirnya kami pulang ke basecamp, dengan saya yang sebenarnya masih menahan mampus dengan gejala penyakit saya ini, tapi akhirnya bisa tidur juga, berlalu satu hari tanpa masuk UGD, dan disuntik, not bad eeven for me.

 

    tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, (benar tidak perbahasanya?) besok malam penyakit kampung saya itu kambuh, padahal sudah dengan setengah mati saya hindari segala sesuatu yang dapat menjadi pemicunya. pakai sweater dan baju dua lapis, jadi tidak mungkin kedinginan. tidur di karpet dialasi selimut, meminimalisir efek debu. tidak mandi, jadi tidak kena air. dan tentu saja melempar Ryan dengan benda apa saja di dekat saya kalau suara ngoroknya sudah mulai terdengar.

    jadilah mau tidak mau saya mengakui juga ke teman-teman bahwa saya perlu ke UGD. sudah tidak tahan, sampai saya bisa pasrah menerima kemungkinan bahwa nanti disana bisa disuntik. akhirnya dengan dua orang yang prihatin, Aliet dan Mbak Lia, berangkatlah saya ke rumah sakit dengan diantar Om Adi, yang belum cukup saya sudah pasrah akan disuntik, mengaku dengan polosnya ya tapi maap maap kalo nyetirny belok belok ga lurus ya, mabok ga mabok kan yang penting nyampe rumah sakit. iya ga ma? sambil senyum senyum najong. oh Ya Allah. dimana mana ya emang. kalo cowok cowok sudah ngumpul, apalagi yang ini adalah kumpulan cowok yang pembuka obrolan setelah magrib adalah entar mau kenalan nggak sama temenku, Colombus? buat yang tau siapa atau apa itu Colombus, ya tau kan berarti maksud saya. jadi kalo saya tidak mati shock atas reaksi terhadap gejala penyakit, saya akan mati tertabrak kereta api karena berada dalam mobil yang disetiri supir mabuk. pasrahlah hambamu ini ya Allah.

    setelah perjalanan yang lumayan lurus, sampailah kami di rumah sakit, masuk UGD dengan dua orang cekikikan di belakang saya, nanti sodara sodara sekalian akan tahu mengapa, kalau sudah tahu, apa sih sebenarnya penyakit misterius saya ini. akhirnya dengan wajah serius datanglah dokter yang memerintahkan seorang perawat untuk mengukur tensi saya. lalu sambil memegang megang tangan saya, bertanya.


dokter    : "ini kenapa?"

ema       : "anu dok.. biduran."

 sayup sayup cekikikan terdengar di belakang saya. biduran aja kok masuk ugd, ihihihih. saya cuma pasrah sajalah diketawakan, karena didalam hati juga sebenarnya geli. penyakit kampung begini kok bisa bikin repot setengah mati. kalau tidak sangat terpaksa saya sebenarnya tidak akan melibatkan orang lain.. tapi bagaimana mau disembunyikan. gejala gejala berikut ini tak mungkin tidak disadari orang sekeliling saya:

1. garuk garuk garuk garuk garuk

2. bentol bentol seluas pulau madura di tangan, kaki, leher

3.  bengkak bengkak di tangan, kaki, dan paling parah, bibir. bayangkan, silahkan. setiap saat sepanjang hari saya dengan bibir bengkak dan mata sembab harus bertemu orang orang, dari dibilang baru bangun tidur terus(padahal udah syap sedia dari jam 7 pagi, kan ga profesional tuh.) sampai bapak-bapak orang pemda bilang "loh kenapa mbak? kok nangis nangis? diputusin pacarnya ya?

        setelah sang dokter bertanya banyak tetek bengek seperti alergi apa, dingin atau makanan? debu? sudah berapa lama?setiap serangan berlangsung berapa jam? serangan… peraaang kali.

      ya begitulah akhirnya. saya pulang dengan resep untuk biduran, dan tetap, cekikikan dari dua orang yang sudah minta maaf atas kelancangan mereka, tapi tetap saja tidak berhenti ketawa. kok ya seumur umur masuk UGD, penyakit ga hip begini, gerutu saya, setengah geli, setengah bersyukur bahwa syukur memang, cuma penyakit kampung ini, bukan penyakit berat yang aneh2.. alhamdulillah ya Allah, cuma gatelgatelgatel ini….*senyum kecut asem mode on*