Un-current affairslah…– kejadian masa lampau, file baru ktemu… 

Suatu sore saya menerima telefon dari seorang teman di Jakarta, mengabarkan ia sekarang pindah rumah ke daerah bebas banjir(insyaAllah..), karena saat banjir di Jakarta pada awal tahun lalu, dia termasuk salah satu korban yang rumahnya agak kelelep, padahal menurut brokernya dulu, terletak di kawasan yang lumayan elit. Dan obrolan terus berlanjut dengan Mela (teman sekontrakan, 23, pengusaha clothing distro kecil-kecilan) masih di seputar kejadian banjir itu. Salah satu yang paling saya ingat adalah pernyataan presiden SBY yang menegaskan bahwa pintu air Manggarai nggak pernah dilarang buat dibuka (yang kalau iya istana kepresidenan bisa kebanjiran juga), saya dan Mela berandai andai bahwa kalo iya istana banjir, presiden bakal pindah ngantor ke Jogja, disini kan ada istana kepresidenan. kalo Bali, jangan,. sini aja.

 

 Berhubung analogi saya tadi logis, jadi ingat, beberapa saat yang lalu saya juga pernah membaca adanya sebuah usulan memindahkan ibukota pemerintahan Australia dari Canberra ke Sydney. Alasannya rada-rada modis menurut saya, hehe, yaitu beberapa pihak berpendapat Sydney lebih ramai, lebih keren—hip, maybe—untuk jadi ibukota, daripada Canberra yang dianggap kurang keren sebagai ibukota.

 

 Lah, bukankah malah sebaliknya? Buat Jakarta nih, selama ini bukankan semua orang berpendapat Jakarta terlalu berat bebannya sebagai ibukota? Jakarta menanggung tiga beban sekaligus, ibukota pemerintahan, ibukota bisnis dan ’ibukota’ hiburan? Sebenarnya agak tidak adil, semua hal jadi numpuk di Jakarta. Dan akibatnya, ya semua masalah jakarta itulah. Belum lagi isu-isu sentralitas-nya jakarta yang membuat iri daerah-daerah lain(iya nggak sih? saya Cuma ngiri di jogja ga ada dufan, hweheh). Saya sering berandai andai bahwa pemerintah kita berani untuk mengambil langkah besar memisahkan semua itu.

 

 Seperti di US, dengan ibukota pemerintahan di Washington, kegiatan bisnis terpusat di New York, dan semua orang juga tau, Califonia adalah ibukota ’hedon’… dan untuk disini, saya berkhayal bahwa Jakarta tetap sajalah buat seliweran artis artis dan dunia mode dan kawan-kawannya, pemerintahan dipindahkan saja ke Jogjakarta, sedangkan bisnis bisa tumplek blek di Surabaya. Biar adil(walaupun masi di seputaran pulau Jawa) dan Jakarta nggak penuh-penuh amat…

 

 Sekali lagi Mela menyela, ”iih kan kasian presiden, Mak, tiap hari didemo”. Iya juga sih, pikir saya. Mahasiswa yang doyan demo disini pasti seperti dapat durian runtuh, Istana presiden pindah ke Jogja, pasti tiap hari mereka ’jalan-jalan’ kesana. Kasihan, repot juga paspampresnya. Tapi yah, sekali itu cuma usulan, yang seringkali juga saya dengar, tapi sepertinya sampai tahun monyet juga nggak bakal terwujud(ato bisa?hehe), sama seperti khayalan saya tentang Malioboro yang dijadikan seperti Orchard Road, yang cuma boleh dimasuki pejalan kaki(dan becak!!:) dan bebas dari kendaraan bermotor. Dan harusnya tulisan ini saya kirim ke majalah atau surat kabar politik, biar ada pejabat yang baca, hehehe… tapi kan lumayan, biar kita-kita saja yang memikirkan itu(walo udah basi, teteup perlu), pejabat yang sekarang biar saja pusing dengan urusan yang lebih riil saat ini. Urusan berandai-andai seperti tadi, jadi jatah yang muda-muda…

 

 Masih berapi-api saya ngomong tentang pindah-pindahan ibukota, tiba-tiba Mela menjerit lagi,”nggak bisa mak! Kalo presiden ngantor di Istana yang di pojokan Malioboro, ntar Malioboro suka ditutup, Mela mu belanja bahan tas kan susah!!” waduh… memang, setiap kepentingan berbenturan, mungkin karena itulah sampai sekarang usulan tak-tersampaikan saya itu tak juga pernah dibahas di DPR, meski mungkin juga sudah banyak dicetuskan orang-orang yang lebih kompeten.

 

 Kacau lagi deh, khayalan saya diberi proyek oleh Andi Malarangeng untuk merancang kepindahan Presiden ke Jogja…