my dad’s in town…
hari jumat pagi kemarin ayah saya datang ke jogja, sepulang dari sebuah seminar di Jakarta. Tiket yang tadinya CGK-AMI diveto oleh ibu saya menjadi CGK-JOG, berhubung ibu "butuh" beberapa barang yang ‘adanya cuma di Jogja’.. jadi begitulah, dua hari ini, saya belajar banyak tentang ayah saya, a man i thought i knew..
pertama, setelah tidur dan tidak mengomentari kontrakan baru(setelah itu laporan ke ibu saya kalo "rumahnya bersih, kamar ema aja yg berantakan" hhmmpphh.) siangnya beliau cerah ceria mengajak membeli:
1. kain seprai ("ibu maunya yang putih polos, kayak biasa")
2. beha favorit ibu saya yang katanya cuma ada di jogja (ohmigod)
3. oleh oleh tas-ato-apa-kek-yang-lucu buat ibu dan dua orang lain temen se-geng ibu saya.
seprai, ga masalah. cuma kain katun putih,renda renda, tidak ada yang bisa diperdebatkan. yang nomor dua juga tidak. kan sudah ada ukurannya..
perjalanan berikut ke Mirota Batik(my fave place of all!) adalah bencana. a total disaster. perjalanan bertiga(dengan adik saya, perkenalkan: Pippi, semester 3 UII ekonomi) ternyata tidak membantu, ternyata butuh lebih dari sekedar sepasang betis tangguh dan kecintaan saya pada Mirota untuk menghadapi ayah saya pada kasus ini.
"tas yang ini? kok agak rame ya? apaan ini, kerang-kerang ga jelas"
"warnanya butek, nanti sama ibu kamu dipikir tas bekas kamu"
"kok murah? padahal bagus loh. pasti ada apa-apanya"
"mahel. padahal cuma begini doang"
"masak yang ini buat bu sinta? yah buat ibu sih gapapa, tapi kalo buat bu sinta ga cocok, kan harus kembar"
"eh ini bagus. ga kembar kayaknya ga apa-apa"
"pegel"
"maenan sepeda yang itu tuh, gimana bikinnya ya? hebat"
"kamu ga beli apa gitu buat adek anin?"
"apa tas yang tadi aja ya? coba tanya kalo warnanya ada yang lain nggak"
"apa sepatu aja ya? jangan tas"
"masak kamu gapernah liat kalo ibu-ibu tuh jalan-jalan? mana pernah bawa tas kecil. barangnya banyak"
"lebih tahan lama mana bahan ini apa yang itu?"
"ga cocok dong, harus mecing(matching-red.) ama semua baju."
"laper, pegel"
"tas yang ini deh, males milihnya"
….dan banyak lagi. suer.
tolong maafkan keterkagetan saya, karena pengalaman belanja saya bersama ayah saya selama ini paling pol ya belanja beberapa kardus sirop buat lebaran, dan belanja-belanja lain yang tidak penting.
adik saya yang biasanya super duper cerewet pun kali ini juga takjub. padahal ironisnya, pagi sebelumnya ayah saya bercerita bahwa ibu menelefon bilang "nanti kalau belanja jangan ajak pippi, yang(yap, ibu saya masih memanggil ayah saya ‘yang’, sayang.) kalo makan baru ajak, dia kan cerewet banget, nanti repot"
sadis yah ibu saya.
yah, ternyata selama ini ayah saya lebih menakjubkan dari yang saya kira. dari semua sifatnya yang menakjubkan seperti suka karaoke dimana saja kapan saja, ato takut anak ayam, ato gasuka kalo nyetir trus disalip, menurut saya itu semua wajar, tapi yang sekarang saya ceritakan ini yang agak tidak bisa saya terima. bapak-bapak seharusnya pecaya pada selera anak gadisnya(dua ekor anak gadis, pula!!) kalo sudah masalah memilih TAS. barang yang berada di wilayah kekuasaan perempuan.
yah nanti kapan kapan bab tentang ayah saya berlanjut lagi, cerita diatas benar adanya dan tanpa paksaan dari pihak manapun. beberapa bagian telah diganti gaya bahasanya demi menyesuaikan dengan pembaca, dan mungkin ada sedikit hiperbolisasi, tapi percayalah, semuanya stated to be true and correct.
