(tulisan dua tahun lalu…-red.)

Dewasa terkadang datang tanpa melalui peristiwa yang kita sadari. Saya akhir akhir ini sering sekali menyadari tentang hal tersebut. Di usia saya yang sekarang, sepertinya kedewasaan adalah sebuah penalty, titik dimana mau tidak mau, saya sudah berada di area ‘dewasa’ itu. Ketika saya berusia 16 tahun, seberapa kerasnya pun saya berusaha untuk menunjukkan dan mengatakan bahwa saya sudah dewasa, orang orang di sekitar saya pasti akan berpendapat sebaliknya, tetapi tetap ada keuntungannya, sih. Ketika saya bertindak bodoh atau melakukan kesalahan, salah satu alasan yang terbaik ya pasti karena saya ‘belum dewasa’, hehe…


    Tetapi sekarang, tanpa harus berusaha membuktikan pun, saya sudah dituntut untuk menjadi dewasa! Menakjubkan ya, bagaimana waktu melakukan keajaiban pada hidup kita.

    Suatu pagi pada saat umur saya masi 20 teng(setaun lalu to ya mbak?), saya terbangun  oleh deringan telefon yang ternyata dari sahabat saya yang mengabarkan bahwa ia akan segera menikah dalam waktu dekat. Semua setan yang bersarang di kantung mata saya serentak terusir, saya benar-benar langsung terjaga. Menikah? Menikah?  Sejenak terlintas pikiran memalukan dalam kepala saya, hendak menanyakan apakah itu karena ‘kecelakaan’. Rupanya ia bisa membaca pikiran saya. Ia tertawa, berkata wajar saja kalau saya berfikir demikian. Bukan, bukan karena kecelakaan, ia bilang ingin hidup tenang saja, ingin settle down, ingin punya tempat bersandar(baru berasa geli sekarang, anak umur 20taun ngomong serius kayak gitu, hehe). Bukan karena harus mempertanggungjawabkan perbuatan seperti yang hampir saya tuduhkan tadi.

    Setengah malu setengah ikut bahagia dan sepenuhnya terkejut saya mengucapkan selamat. Mengingat selama ini ia adalah salah satu sahabat dimana kami dulu pernah sama-sama memikirkan masa depan yang sepertinya panjaaaang dan overloaded sekali dengan cita-cita, saya tak habis pikir pada awalnya, kenapa sih seorang teman saya yang belum setengah tahun yang lalu berencana seperti akan kuliah sampai punya selusin gelar dan mengejar karir tiba-tiba saja memutuskan menikah. Lalu seberapa hebat sih, sang calon suami?

    Dan seharian itu mood saya pun tiba-tiba di-set hanya ingin sok merenung saja. Saya yang dulu berfikir bahwa hanya sayalah yang paling memikirkan tentang hal itu,. Lembaga pernikahan dan settle down dan hidup tenang dan habislah riwayat hidup saya. Ya memang sih hidup tenang, lalu punya anak, lalu melihat mereka tumbuh dan membuat berbagai masalah (seperti yang saya lakukan terhadap kedua orangtua saya, he..) lalu tanpa disadari saya sudah jadi tante-tante yang hobi arisan lalu jadi nenek-nenek cerewet. Wah. Kadang-kadang saya ngeri a.k.a geli dengan jalan pikiran saya sendiri. Apa iya segitu pendeknya dan segitu tanpa warnanya? Ya saya sih yakin hidup bersama seseorang seperti yang bisa kita sebut suami bukan berarti hidup saya akan mandeg. Saya yakin menikah tidak akan menghambat cita-cita saya kalau saya memang menginginkannya.

    Lalu tiba-tiba saya mengingat-ingat. Saya rasa bukan bagian menikahnya, tapi bahwa itu adalah sesuatu keputusan besar. Selama ini saya adalah seseorang yang selalu mengikuti jalur dan hampir bisa dibilang saya tak pernah berani mengambil resiko. Saya tak pernah berfikir akan mengambil suatu keputusan yang akan mengubah jalan kehidupan saya secara drastis, jadi apa yang saya anggap aman dan menuju ke tahap hidup berikut yang sewajarnya.ya contohnya lulus SMU saya kuliah, untungnya dapat diterima di universitas dan jurusan yang saya inginkan. Tak pernah terfikir saat itu untuk kerja apalagi menganggur setahun untuk melakukan hal-hal yang saya inginkan. Tidak berani. Padahal dalam hati ingin sekali, dulu saya inginnya break dulu satu tahun tidak kuliah dulu, mau jalan-jalan cari pengalaman, pokoknya saya sudah berkhayal macam-macam. Tapi lagi lagi rasio saya condong mengatakan mengikuti jalur saja, tidak ingin mengambil resiko. Memikirkan orangtua juga. Jadi kuliahlah saya, untung saja saya berada pada posisi saat ini, yang bisa dikatakan kuliah ini merupakan bidang yang memang merupakan hobi saya, jadi tidak menyesal-menyesal amat.

    Kembali ke soal kedewasaan. Ada saat saya menyaksikan kadang kedewasaan terbentuk tidak melalui suatu proses yang panjang. Ada kalanya hanya melalui sebuah peristiwa yang tiba-tiba, seperti sebuah shock, membentuk seseorang menjadi dewasa seketika. Ada seorang kawan yang saya terbiasa dengannya yang ‘normal’ dan terkadang terkesan kekanakan, ketika ayahnya berpulang, dibalik kesedihannya, kami para sahabatnya dapat melihat ia  dalam instan tumbuh dewasa. Hilang sudah sifatnya yang kekanakan.

    Saya sendiri merasakannya bertahap. Kadang cara saya menghadapi masalah dengan tingkat kepanikan yang tinggi dan terkadang sampai histeris, saya selalu berusaha menutupinya. Sekarang secara berangsur-angsur saya sudah jauh lebih tenang dalam melihat masalah, seeing the whole picture, dan masih terus mengingatkan diri saya untuk tidak terlalu hiperbolis dalam bereaksi terhadap suatu masalah. Dulu menghadapi seorang teman kuliah yang misalnya merugikan saya dalam mendapat nilai seperti tidak ikut bekerja dalam kelompok, saya bisa sekali secara frontal menegurnya secara sepihak ……… sekarang sih, ya.. hidup ternyata lebih baik dihadapi dengan tuma’ninah, hehehe…

_to be continued_